Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (10) : Membuat Catatan untuk Hidup dan Menghidupkan


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Pada sebuah diskusi tentang konservasi burung di Indonesia, ada sebuah hal menarik yang sulit saya lupakan. Pemateri tentang perkembangan perkembangan penelitian burung di Indonesia yaitu Bapak Yus Rusila Noor, seorang ornitolog (ahli burung) spesialis burung air memulai pembiacaraanya dengan sebuah pertanyaan menarik.
“Siapa yang mengisi buku catatannya selama birdwatching (pengamatan burung) tadi? Coba tunjukkan buku kalian.”
Terlihat hanya kurang dari separuh birdwatcher (pengamat burung) yang mengacung, termasuk saya. Saya pun hanya mengisi sedikit catatan selama 3 jam berkeliling Kebun raya Bogor sejak pukul 7 pagi. Maklum ini untuk pertama kalinya saya melalukan pengamatan burung secara serius dengan para pengamat burung yang berpengalaman.
“Ilmu tentang burung berkembang dari buku-buku catatan kecil seperti yang kalian pegang. Ini buku yang saya pakai sejak tahun 1980-an.”
Pak Yus, demikian beliau dipanggil, memperlihatkan buku tulis kecil yang tebal, yang sering disebut “notes” dengan cover tebal yang dilekatkan lakban hitam. Bukunya nampak kucel dan warna nya buram. Namun ketika beliau membuka lembar demi lembar isi catatannya terlihat begitu rapi dan detil. Terlihat pula sketsa burung meski sangat sederhana. Luar biasa, bayangkan sudah 30 tahun buku dan isinya masih terawat.
“Buku kecil tebal ini isinya lebih rapi dan detail. Sedangkan untuk di lapangan, saya memakai ini.” Beliau menunjukkan sebuah buku lebih kecil seukuran 15 x 8 cm dengan spiral dipinggirnya.
“Yang kecil ini saya catat apa pun yang saya ingat, termasuk berapa ongkos naik ojek beli gorengan, beli buras, (nasi yang dibungkus daun berukuran kecil seperti lontong) dan lain-lain. Setelah itu baru dipindah ke buku yang lebih besar dengan catatan yang lebih rapi dan mudah dipahami.”
Beliau lalu melanjutkan, “Sebagai seorang birdwatcher, kejujuran adalah  hal pertama. Kedua adalah menumbuhkan rasa percaya diri dengan apa yang kita temukan. Ketiga disiplin dan konsisten dengan waktu pengamatan dan keempat. Kita harus tahu diri dan dapat mengontrol diri. Itu filosofi yang harus benar-benar dihayati dan diparkatekkan di lapangan. Kenapa saya menunjukkan buku kecil ini?” Pak Yus membuka sebuah pertanyaan renungan pada peserta diskusi.
Kalian jangan terlalu percaya diri dengan otak atau memori. Paling lama kita hanya bisa mengingat sesuatu dalam hitungan jam, setelah itu lupa. Catatan ini akan sangat berguna untuk secara pasti kita mengingat obyek dan kejadian yang kita temui secara detil. Tulis apa saja yang kalian temukan. Milikilah buku catatan sebanyak mungkin. Teman saya dari Jerman ini setiap bulan mengganti buku catatan tebalnya dengan yang baru.” Beliau menunjuk wanita Jerman yang diketahui bernama Bea Maas disampingnya yang juga menjadi pembicara dalam diskusi ini.
“Yeah, I always start new book every month. Everything what I thought, I have to write here,” tegas Miss Bea Maas, seorang peneliti burung Kandidat Doktor dari Gottingen University seolah menegaskan betapa pentingnya mencatat segala hal.
Saya merasa mendapat pejaran sangat berharga hari ini. “Mencatat, mencatat, mencatat lalu memelihara catatan-catatan itu,” gumam hati saya saat itu.
Di masyarakat kita, budaya mencatat sangatlah minim. Kita lihat masyarakat lebih suka mendengar dan berbicara dari pada mencatat dan menuliskan kembali catatannya.  Lihatlah ketika acara seminar, kuliah, pelatihan atau kunjungan, berapa banyak orang yang mencatat di acara tersebut. Mereka terlihat sangat percaya diri dengan otak mereka. Akhirnya, orang-orang yang tak mencatat itu kebingungan saat ada sesi evaluasi karena tak ada yang bisa diingatnya kembali.
Orang yang tak mencatat merasa aman karena sekarang pembicaraan bisa direkam. Catatan bisa pinjam dan menfoto copynya dari teman. Diktat atau modul juga tinggal dibeli.  Namun seberapa jauh kepahaman orang yang tak pernah mencatat saat membaca catatan orang lain yang belum tentu bisa dibaca.  Seberapa ingat orang tak mencatat ketika mendengar rekaman yang kita tak mengikutinya.
Budaya mencatat lahir di kalangan bangsa yang maju. Saya sendiri sering membaca sebuah buku laris yang ternyata lahir dari catatan-catatan perjalanan.  Bahkan sebuah buku ilmiah yang sangat berguna, seperti buku panduan lapangan pengenalan jenis tumbuhan dan hewan lahir dari ketekunan peneliti merawat dan menuliskan kembali catatannya. Para ulama juga melahirkan karya besar dengan tekun membuat catatan dan merawatnya. Kitab-kitab suci terpelihara karena dituliskan kembali dengan detil oleh penulis yang tekun. Bisa dibayangkan, bagaimana kalau budaya mencatat ini hilang, maka ilmu pun akan lenyap.
Saya teringat sebuah kata mutiara dari Ali RA, Ilmu itu laksana binatang buruan, maka jeratlah ia dengan menuliskannya.” Kata mutiara ini langsung teringat saat saya melihat Pak Yus menunjukkan buku catatannya.
Dan bukankah dalam Alquran, Allah menyuruh manusia untuk menulis, disamping membaca.
Nun, demi Qalam (pena) dan apa yang telah mreka tulis.” (Al Qolam/68:1)
Bagi saya, mencatat adalah sarana kita untuk terus hidup dan menghidupkan.  Hidup karena kita bisa berbagi pada yang lain. Menghidupkan, kalau ada catatan kita yang membangkitkan semangat orang lain. Bukankah orang yang hidup adalah yang masih sanggup berbagi dan tak kehilangan semangatnya. Orang yang banyak catatannya akan dikenang karya dan mengalir kebaikannya sepanjang masa.  Ia tetap hidup jiwa dan pikirannya meski jasadnya lenyap.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (9) : Menikmati Indahnya Kemacetan


Oleh : Achmad Siddik Thoha
                        
Angkot hijau muda jurusan Baranangsiang-Bubulak merayap pelan. Seperti biasa, Pasar Gunung Batu Bogor menjadi titik pelambat kecepatan semua kendaraan karena kesibukannya. Pemandangan umum dengan mudah terlihat di dalam kotak hijau muda  bermesin dengan merek Daihatsu maupun di dalam mobil pribadi, truk, angkutan sekolah dan motor. Semua mengeluh karena macet. Macet membuat watak asli manusia muncul, Mengeluh, mengumpat dan menyalahkan.
“Tiiiiiiin…..” bunyi klakson bersahut-sahutan
“Woi, minggir kalau ambil penumpang.” Sopir mobil pribadi bersuara lantang bak komandan memerintah pasukannya.
“Motor sialan! Jalanmu sebelah kanan, tahu peraturan jalan gak, sih?” Sopir truk kesal dengan pengendara motor yang mengambil jalannya dari arah berlawanan.
Waduh, kapan kita sampai, ya. Bisa diusir dosen nih, karena terlambat.” Seorang mahasiswi di dalam angkot mulai gelisah sambil memegang tangan kawannya.
Suasana berbeda terlihat pada seorang pemuda yang asyik mojok di salah satu angkot hijau muda.  Pemuda itu duduk santai sambil memegang buku. Mulutnya komat-kamit menyuarakan isi bacaannya. Ternyata dia seorang mahasiswa yang tiap hari naik angkot menuju kampusnya. Sama sekali tidak tampak raut gelisah di wajahnya. Dia sangat menikmati kemacetan. Baginya kemacetan adalah anugrah. Kemacetan telah membuat dirinya terbiasa membaca dalam kondisi yang buat orang lain tidak nyaman. Kemacetan membantunya terbiasa beristirahat sambil membaca dan menghafal.
Dik, kamu kok bisa membaca di dalam angkot, ya? Saat macet begini kan panas banget, nih,” tegur seorang ibu, salah satu penumpang angkot.

Tadinya saya tidak biasa, Bu. Setelah sebulan saya jalani, ternyata saya bisa menikmati, Bu. Saya sudah sangat hafal dimana titik macet dan berapa lama saya bisa tiba di kampus. Saya merasa dengan mengeluh dan menyalahkan tidak akan ada gunanya. Toh saya tidak punya kemampuan merubahnya. Lebih baik saya menikmatinya saja. Makanya saya bawa buku sebanyak-banyaknya kalau naik angkot. Jadi setelah di rumah saya bisa mengerjakan pekerjaan lain.”
Kamu tinggal di mana, Dik?” Penumpang perempuan ini mulai tertarik menggali informasi.
Di Babakan Fakultas, Bu. Di belakang Kampus IPB Baranangsiang.”
Wah, itu kan 10 km dari kampus, ya. Tiap hari kamu ke kampus naik angkot? Pasti pagi-pagi sekali kamu berangkat. Berapa lama sampai ke kampus?” Ibu itu mencecar dengan pertanyaan karena kagumnya.
Kalau pagi begini, satu setengah jam, Bu. Pulangnya juga begitu, Bu.”
Kamu sungguh beruntung, Dik. Bisa memanfaatkan waktu dimana orang lain justru melakukan hal yang sia-sia. Lihat saja, saat macet begini sebagian besar orang memilih mengeluh, menyalahkan atau setidaknya hanya diam tanpa melakukan apa-apa.  Beda dengan kamu, kamu justru bisa melakukan hal yang produktif.”
Angkot hijau muda itu hampir merapat di terminal Bubluak. Ibu dan pemuda itu berpisah. Perjalanan pemuda itu menembus kemacetan terus berlanjut. Jangan tanya tingkat kemacetan jalur Bubulak-Kampus IPB Darmaga. Lebih parah daripada Jalur Baranangsiang - Bubulak. Itu tak menjadi masalah bagi si pemuda karena dia siap menikmatinya dan memetik manfaat yang besar dari kemacetan.
***
Sahabat, pemuda itu telah memanfaatkan sesuatu yang tidak disukai orang menjadi anugerah. Tidak hanya itu, dia bisa terhindar dari kesiaa-siaan. Ketika orang lain mengeluh, mengumpat dan menyalahkan, dia tersenyum dan diam. Ketika orang khawatir dengan kegiatannya, dia gembira karena berhasil memahami materi kuliahnya. Saat orang lain merasa rugi karena waktunya terbuang, ia justru memperoleh keberuntungan dengan bertambahnya ilmu.
Ada pepatah terkenal yang mungkin kita ingat: Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.”
Ya, kita takkan bisa menghentikan gelap, karena itu diluar kuasa kita. Kita takkan bisa mengubah apapun dengan mengeluh, menyalahkan dan mengutuk gelap, karena ia pasti tiba. Biarlah gelap datang, karena ia membuat cahaya lilin begitu berarti. Ia membuat bulan begitu cantik wajahnya. Ia membuat mata bisa beristirahat. Ia juga mendatangkan kesejukan dan kesunyian yang diperlukan makhluk.
Sahabat, mengapa harus mengutuk macet, gelap atau sesuatu yang di luar kuasa kita, karena ia bisa menjadi anugerah yang indah bagi kita. Mengapa harus mengeluhkan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Akan lebih baik bila kita menyiapkan diri menimatinya atau setidaknya menghindari kesia-siaan.
Bila nasi sudah menjadi bubur, mengapa tidak kita cari bawang daun, bawang goreng, kacang kedelai, kerupuk, kecap dan irisan daging ayam lalu kita bumbui bubur itu. Bukankah bubur itu akan menjadi bubur ayam lezat yang kita pun akan bergairah menikmatinya.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (8) : Bergerak Menjemput Karunia-Nya



Pohon rambutan Bu Denok berbuah lebat. Buahnya tampak memerah rimbun bergelantungan, memikat pandangan siapapun yang lewat. Para tetangga pun tak mau ketinggalan minta bagian buah sedap itu. Saban hari, ada saja yang datang meminta buah rambutan. Maklum, Bu Denok ini memang terkenal pemurah di kompleks tempat tinggalnya.
Ada yang datang dengan celana digulung selutut siap memanjat pohon rambutan. Ada yang datang membawa galah. Bahkan ada yang datang dengan membawa karung kosong siap diisi penuh oleh buah nan segar itu. Semua disambut Bu Denok dengan tangan terbuka.
Ada juga tetangga Bu Denok yang setiap hari menelepon minta rambutan. Namanya Bu Cemplon. Sehari bisa beberapa kali menelepon, mengingatkan Bu Denok agar dirinya disisakan buah rambutan. Setiap menelepon selalu lama, walau tetap diterima Bu Denok dengan suka cita.
Setiap hari tak jemu Bu Cemplon menelepon, hingga musim rambutan berlalu, dan buah tak lagi bersisa walau satu juga. Bu Cemplon tak pernah datang mengambil rambutannya, tak segigit pun mencicipi lezatnya rambutan Bu Denok.
Sahabat, rezeki kita sudah disediakan. Dia menciptakan nyamuk untuk mengenyangkan cicak, Dia juga menyediakan nektar demi lebah dan kupu-kupu. Dan cicak keluar menjemput rizkinya, merayap di tembok menangkap mangsanya. Kupu-kupu dan lebah beterbangan, tak lelah mengepakkan sayap menuju bunga demi bunga di taman.
Namun, ada sebagian kita yang tidak mengiringi doa dengan ikhtiar raga. Sama seperti Bu Cemplon, yang hanya menelepon Bu Denok minta buah Rambutan, walau memang tak pernah alpa setiap harinya. Hanya menelepon, tanpa sekalipun mengunjungi rumah Bu Denok.
Sahabat, jika ingin rezeki, bergeraklah. Lakukan apa saja yang kita bisa. Sekecil apa pun, sesederhana apa pun itu. Ada seorang ibu yang menjemput rezekinya dengan membungkus kue. Kue bolu satu loyang diambilnya di toko kue. Kemudian diiris-irisnya kue bolu itu dan diplastiki satu-satu. Potongan kue dijualnya lagi di pedagang kue eceran. Hanya bermodalkan plastik dan ketekunan, dapat membantu suami menyekolahkan anak-anaknya.
Ada seorang lelaki mengitari kompleks perumahan, menawarkan jasa membersihkan kompor gas. Tanpa modal apa-apa, hanya kemauan dan ketelitian membersihkan minyak yang menempel di sudut-sudut kompor. Tapi setidaknya ia bergerak, terus bergerak menuju rezekinya.
Seorang nenek tiap pagi berjalan kaki menenteng termos air panas dan kopi atau teh instan. Pekerjaan sederhana, mungkin untungnya tak seberapa. Tapi ia bergerak, berikhtiar nyata menjemput rezekinya.
Jantung kita dalam sehari berdenyut hingga ratusan ribu kali. Elektron tak pernah lelah berotasi mengelilingi inti atom. Bumi, langit dan segenap isinya senantiasa bergerak. Tuhan menciptakan cacing untuk burung, tapi tidak melemparkan ke sarangnya. Burung harus terbang mencarinya. Bergerak adalah suatu keniscayaan di dunia ini. Mereka yang diam akan tersisih.
Setiap awal selalu sulit bagi siapa pun. Mulai bergerak memang tantangan terbesar. Bangkitlah, Sahabat. Mulailah, cobalah, bergeraklah, kerjakanlah, berangkatlah. Yakinlah, Dia akan tunjukkan jalan menuju rezekimu.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (7) Berdamai dengan Penderitaan


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Di sebuah lahan luas di pedesaan, hiduplah lelaki tua bersama istrinya. Lelaki itu seorang penulis ternama yang karyanya banyak menginspirasi orang. Dia sangat dikagumi karena karyanya mampu mengobati derita dan memberi semangat bagi pembacanya.
Seorang penggemar karya sang penulis suatu saat mendengar berita bahwa dia terkena serangan stroke berat. Separuh badannya sebelah kiri hampir tidak dapat digerakkan. Menurrut diagnosa dokter, sulit bagi sang penulis untuk bisa bicara lagi.  Namun dalam waktu beberapa pekan, dia telah mendapatkan kembali kemampuannya untuk bicara dan dia bersikeras menulis kembali sambil memulihkan pikirannya. Dia kemudian mendatangi rumah sang penulis untuk menjenguknya sekaligus ingin mendengar kearifan hidup darinya.
Sang penulis bangkit dari duduknya sambil memegang tongkat menyambut tamunya yang juga penggemar karyanya. Dengan mata berbinar, lelaki bertinggi sedang mengajak penggemarnya memasuki kamarnya yang penuh dengan buku tertata rapi.
Saya sangat berterima kasih pada Anda, Pak. Buku Anda telah banyak membantu saya. Namun belakangan ini, serangkaian musibah melanda saya. Rasanya penderitaan saya semakin parah dan saya merasa sulit untuk mengatasinya.” Si penggemar meluapkan perasaan dukanya pada sang penulis.
Mari kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil berjalan keluar rumah mendekati deretan pepohonan yang mengelilingi ladang jagung. Rumah sang penulis dikelilingi hamparan ladang dan hutan di ujungnya.
Tiga puluh tahun yang lalu, pemilik ladang itu menanami pepohonan itu untuk memagari ladangnya. Awalya, pohon muda tidak dengan kawat berduri yang menancap di batangnya. Ada pohon yang melawan, tapi ada juga yang beradaptasi. Lihat disana, ada pohon yang bisa menerima dan kawat itu menyatu dengan kehidupan pohon, tapi kelompok pohon yang dekat ini, ia tidak tahan.” Penulis menunjuk pada pohon tua yang bentuknya tidak karuan akibat dipasangi kawat berduri.
Mengapa pohon itu menyakiti diri sendiri dengan melawan kawat berduri itu, sementara pohon yang sebelah sana justru menguasai si kawat berduri?”
Si penggemar mengamati pohon yang agak jauh itu. Pohon itu sama sekali tidak menunjukkan tanda kerusakan. Jangankan luka yang panjang dan besar, yang terlihat justru kawat yang terlihat masuk lewat satu sisi dan muncul disisi lainya, hampir seperti disisipkan dengan bor.
Aku sering mengamati dan merenungi pepohonan itu,” kata penulis, sambil berbalik mengajak penggemarnya kembali ke rumah.
Kekuatan apa yang sanggup mengatasi luka, perih dan sakit yang disebabkan oleh kawat berduri, bukan membiarkan dirinya tersisih seumur hidupnya? Bagaimana pohon itu bisa mengubah kepedihan menjadi pertumbuhan tubuhnya yang optimal, bukan sebaliknya menjadi pengganggu dan beban yang mematikan dirinya?”
Kau punya masalahmu sendiri dan aku berjuang dengan masalahku sendiri. Jika kita bersikap bijak dengan kesedihan yang kita rasakan, jika kita bisa mengakhiri duka secepatnya, maka kawat berduri itu tidak akan menguasai kita. Kita bisa berdamai dan hidup menyatu dengan masalah atau penderitaan kita. Aku bersedia mengatasi masalahku.  Kau pun bisa mengatasinya asalkan tidak menjadika pengalaman buruk sebagai dalih untuk mundur. Bahkan seharusnya kau harus berjanji untuk menerima kebangkitanmu kembali” Akhirnya mereka kembali tiba di beranda rumah penulis. Secangkir kopi hangat telah terhidang.
Setelah meminum kopi hangat yang sedap, sang penggemar memutuskan untuk berpamitan. Terima kasih, saranmu akan kulakukan.” Sang penggemar berjanji dan mereka berjabatan tangan.
Sang penggemar kemudian mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah sang Penulis. Dia smenyempatkan menengok ke pepohonan pagar hidup itu yang daun-daunnya dipermainkan oleh angin. Pepohonan itu telah mengajarinya kekuatan untuk mengatasi kemalangan, beradaptasi melanjutkan hidup dan terus tumbuh.

*Terinspirasi dari Buku Everyday Greatness karya David K. Hatch

AKU SERSAH BUKAN SAMPAH (6) Belajar dari Pohon Sirsak

Oleh: Galuh Chrysanti

Di negeri kita, pohon sirsak ini memang masih kalah populer dibandingkan pohon buah lainnya seperti mangga, apel, atau pepaya. Maklum, bijinya yang lekat dengan daging buahnya, membuat penikmat sirsak agak kerepotan untuk menikmati buah bercita rasa asam segar ini.

Buah Sirsak sudah kita kenal kaya akan vitamin C dan antioksidan. Akan tetapi sebetulnya ada aneka macam cara manusia di berbagai belahan dunia dalam memanfaatkan pohon sirsak. Di Brazil, bunga sirsak dipakai untuk mengobati penyakit bronchitis, di Amazon biji Sirsak digunakan untuk mengobati masuk angin, di Madagaskar daun Sirsak dimanfaatkan untuk mengobati penyakit lever, sedang di Indonesia dan Peru, bijinya dimanfaatkan oleh para pelaku pertanian organik untuk diolah sebagai pestisida nabati untuk mengatasi berbagai organism pengganggu tanaman.

Namun sang Annona muricata, nama latin dari pohon sirsak ini, kini mulai menggaung namanya sebagai penumpas sel-sel kanker. Hal ini adalah karena sirsak mengandung senyawa aktif bernama acetogenin. Senyawa ini ternyata mampu mengenali dan membedakan antara sel kanker jahat dan sel normal pada tubuh manusia. Target sasarannya jelas, yaitu hanya sel kanker. Berbeda dengan kemoterapi yang seringkali juga melemahkan sel-sel yang normal. Acetogenin ini bekerja dengan menghambat ATP, sumber energi sang sel kanker. Akibat penghambatan ini, sel kanker menjadi tidak dapat berkembang. AgrEvo Research Center di Amerika Serikat bahkan membuktikan bahwa daun sirsak dapat membunuh sel-sel kanker usus besar 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamycin dan kemoterapi. Kabar yang tentunya sangat menggembirakan bagi sahabat dan kerabat kita yang mengidap kanker di seantero penjuru dunia.

***

Sahabat, sirsak tentu bukan tanaman yang asing bagi kita semua. Bahkan mungkin ada diantara kita yang pekarangannya menjadi tempat tumbuh tanaman multi manfaat ini. Akan tetapi, sejauh mana kita sudah memanfaatkan khasiatnya yang luar biasa?

Pohon sirsak entah sudah berapa lama berada di bumi kita ini. Namun khasiat pamungkasnya baru terungkap sekarang, seiring dengan intensitas penelitian manusia atasnya.

Begitu juga dengan diri kita, sahabat. Tiap diri kita menyimpan potensi yang sangat dashyat, yang tidak akan kita ketahui kecuali kita mengeksplorasi aneka potensi itu dengan sebaik-baiknya. Bagaikan sirsak sang penumpas sel kanker yang dahulu hanya populer sebagai jus buah saja.

Sebetulnya Tuhan sudah menyempurnakan karunia-Nya dalam diri kita. Namun apakah kita sudah memaksimalkan seluruh kemampuan kita?

Tidak pernah terlambat untuk memiliki sebuah cita-cita baru, merengkuh kesempatan baru, mencoba aneka bakat yang diberikan-Nya untuk kita. Dan kita tak akan tahu sejauh mana kemampuan kita sebelum kita bergerak dan memberanikan diri mencoba. Ketika kita memberdayakan seluruh potensi kita, kita akan tenggelam dalam syukur karena menyadari, betapa banyak ternyata yang bisa kita lakukan, yang selama ini mungkin tidak pernah kita kerjakan.

Kenalilah diri kita, sahabat. ‘Push your limit’. Sungguh, semua sudah ada dalam diri kita. Teruslah menggali, teruslah mengeksplorasi kelebihan diri. Semakin banyak kita mengenali potensi diri dan berkarya, semakin besar manfaat kita untuk keluarga dan sesama manusia. Selamat mengenali, melejitkan potensi, dan mengukir prestasi baru

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (5) : Nyalakan Cahaya Harapanmu

Oleh: Galuh Chrysanti

Sebuah institusi perguruan tinggi mengadakan acara ‘survival weekend’ di sebuah hutan sebagai kegiatan wajib bagi para mahasiswa baru. Mereka diharuskan menempuh jalur ‘tracking’ tertentu seorang diri, dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Namun karena para pesertanya adalah mahasiswa yang awam dengan kondisi hutan, maka peraturan yang diberikan pun cenderung longgar. Bagi mereka yang sudah merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, diperbolehkan melepaskan suar asap ke angkasa sebagai tanda bahwa dia membutuhkan pertolongan tim penyelamat.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (4) : Hanya Batu Kusam


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Lelaki itu melihat sesuatu yang ganjil di tengah jalan. Didekatinya benda yang menarik hatinya. Ternyata hanya sebuah batu lusuh. Diusap-usapnya batu itu. Lama-lama batu itu tambah mengkilat. Benda itu cukup membersitkan harapan baginya.
Terbayang istrinya di rumah yang telah lama minta dibelikan lemari. Benar, pakaiannya berantakan di kamar karena lemari kecil sejak menikah dulu sudah tak muat lagi. Lalu pikirannya beralih ke Nanda, anak satu-satunya yang sudah 3 bulan menunggak uang sekolah. Beberapa kali permintaan anaknya untuk membelikan buku dia tolak secara halus.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (3) : Atas Nama Sahabat Air


Oleh : Teita Futsufeita
                                                       
Aku masih ingat tawa mereka melihat riak jernihku yang mengalir diantara daun-daun kehidupan. Kau pun tersenyum melihat aku datang bersama kasih sayang langit, bahkan anak-anak menari riang bersamaku.  Mengalir udara-udara kesejukan dalam istanaku yang teduh. Aku adalah nafas kehidupan.

Kau sangat mengenalku, bukan? Pasti! karena kita adalah sahabat saat itu. Dulu, dulu sekali. Sebelum kau menghianatiku. Pasti kau ingat ketika aku menyapamu santun menuju muara tak bertepi. Tidak hanya kau yang kusapa tapi mereka, bahkan saudara-saudara kecilku, bunga-bunga kecil yang tumbuh bersama sapaan ramahku. Indah bukan? Bersamaku, atas nama persahabatan,  bangunan kokoh itu berdiri hingga hilang ketakutan mereka saat gulita. Dan bodohnya aku memercayaimu.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (2) : Memadamkan Api Emosi


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Keberadaan hutan semakin terancam. Banyak penyebab yang mengakibatkan hutan kita semakin menyusut. Penebangan tidak terkendali tanpa menanam kembali, perladangan yang merusak hutan, perubahan lahan hutan menjadi kebun dan ladang serta kebakaran dan pembakaran hutan. Hutan sangat cepat ludes saat terserang kebakaran.  Musim kemarau yang panjang dan suhu yang sangat tinggi mengancam keberadaan hutan kita. Saat hutan terbakar sangat sulit mengendalikan penjalaran api. Mungkin hanya hujanlah yang bisa memadamkan kebakaran hebat di hutan.
Dalam teori kebakaran, kebakaran atau api hanya akan terjadi bila terdapat tiga unsur yang dikenal dengan segitiga api. Tiga unsur dalam segitiga api itu yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau api. Salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka api tidak akan terjadi.

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Daunnya rindang, batangnya besar, tingginya menjulang dan buahnya lebat. Tiap hari menjelang matahari terbit, petani mengajak anaknya yang berusia delapan tahun duduk di bawah pohon. Petani itu mengajarkan anaknya berbicara dengan pohon. Petani juga menyuruh anaknya merawat pohon tiap pagi, siang, dan sore. Petani menyuruh anaknya menyiram, membersihkan rerumputan di sekitarnya dan melepaskan ranting-ranting kering pohon yang hampir jatuh.

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT