Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (9) : Menikmati Indahnya Kemacetan


Oleh : Achmad Siddik Thoha
                        
Angkot hijau muda jurusan Baranangsiang-Bubulak merayap pelan. Seperti biasa, Pasar Gunung Batu Bogor menjadi titik pelambat kecepatan semua kendaraan karena kesibukannya. Pemandangan umum dengan mudah terlihat di dalam kotak hijau muda  bermesin dengan merek Daihatsu maupun di dalam mobil pribadi, truk, angkutan sekolah dan motor. Semua mengeluh karena macet. Macet membuat watak asli manusia muncul, Mengeluh, mengumpat dan menyalahkan.
“Tiiiiiiin…..” bunyi klakson bersahut-sahutan
“Woi, minggir kalau ambil penumpang.” Sopir mobil pribadi bersuara lantang bak komandan memerintah pasukannya.
“Motor sialan! Jalanmu sebelah kanan, tahu peraturan jalan gak, sih?” Sopir truk kesal dengan pengendara motor yang mengambil jalannya dari arah berlawanan.
Waduh, kapan kita sampai, ya. Bisa diusir dosen nih, karena terlambat.” Seorang mahasiswi di dalam angkot mulai gelisah sambil memegang tangan kawannya.
Suasana berbeda terlihat pada seorang pemuda yang asyik mojok di salah satu angkot hijau muda.  Pemuda itu duduk santai sambil memegang buku. Mulutnya komat-kamit menyuarakan isi bacaannya. Ternyata dia seorang mahasiswa yang tiap hari naik angkot menuju kampusnya. Sama sekali tidak tampak raut gelisah di wajahnya. Dia sangat menikmati kemacetan. Baginya kemacetan adalah anugrah. Kemacetan telah membuat dirinya terbiasa membaca dalam kondisi yang buat orang lain tidak nyaman. Kemacetan membantunya terbiasa beristirahat sambil membaca dan menghafal.
Dik, kamu kok bisa membaca di dalam angkot, ya? Saat macet begini kan panas banget, nih,” tegur seorang ibu, salah satu penumpang angkot.

Tadinya saya tidak biasa, Bu. Setelah sebulan saya jalani, ternyata saya bisa menikmati, Bu. Saya sudah sangat hafal dimana titik macet dan berapa lama saya bisa tiba di kampus. Saya merasa dengan mengeluh dan menyalahkan tidak akan ada gunanya. Toh saya tidak punya kemampuan merubahnya. Lebih baik saya menikmatinya saja. Makanya saya bawa buku sebanyak-banyaknya kalau naik angkot. Jadi setelah di rumah saya bisa mengerjakan pekerjaan lain.”
Kamu tinggal di mana, Dik?” Penumpang perempuan ini mulai tertarik menggali informasi.
Di Babakan Fakultas, Bu. Di belakang Kampus IPB Baranangsiang.”
Wah, itu kan 10 km dari kampus, ya. Tiap hari kamu ke kampus naik angkot? Pasti pagi-pagi sekali kamu berangkat. Berapa lama sampai ke kampus?” Ibu itu mencecar dengan pertanyaan karena kagumnya.
Kalau pagi begini, satu setengah jam, Bu. Pulangnya juga begitu, Bu.”
Kamu sungguh beruntung, Dik. Bisa memanfaatkan waktu dimana orang lain justru melakukan hal yang sia-sia. Lihat saja, saat macet begini sebagian besar orang memilih mengeluh, menyalahkan atau setidaknya hanya diam tanpa melakukan apa-apa.  Beda dengan kamu, kamu justru bisa melakukan hal yang produktif.”
Angkot hijau muda itu hampir merapat di terminal Bubluak. Ibu dan pemuda itu berpisah. Perjalanan pemuda itu menembus kemacetan terus berlanjut. Jangan tanya tingkat kemacetan jalur Bubulak-Kampus IPB Darmaga. Lebih parah daripada Jalur Baranangsiang - Bubulak. Itu tak menjadi masalah bagi si pemuda karena dia siap menikmatinya dan memetik manfaat yang besar dari kemacetan.
***
Sahabat, pemuda itu telah memanfaatkan sesuatu yang tidak disukai orang menjadi anugerah. Tidak hanya itu, dia bisa terhindar dari kesiaa-siaan. Ketika orang lain mengeluh, mengumpat dan menyalahkan, dia tersenyum dan diam. Ketika orang khawatir dengan kegiatannya, dia gembira karena berhasil memahami materi kuliahnya. Saat orang lain merasa rugi karena waktunya terbuang, ia justru memperoleh keberuntungan dengan bertambahnya ilmu.
Ada pepatah terkenal yang mungkin kita ingat: Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.”
Ya, kita takkan bisa menghentikan gelap, karena itu diluar kuasa kita. Kita takkan bisa mengubah apapun dengan mengeluh, menyalahkan dan mengutuk gelap, karena ia pasti tiba. Biarlah gelap datang, karena ia membuat cahaya lilin begitu berarti. Ia membuat bulan begitu cantik wajahnya. Ia membuat mata bisa beristirahat. Ia juga mendatangkan kesejukan dan kesunyian yang diperlukan makhluk.
Sahabat, mengapa harus mengutuk macet, gelap atau sesuatu yang di luar kuasa kita, karena ia bisa menjadi anugerah yang indah bagi kita. Mengapa harus mengeluhkan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Akan lebih baik bila kita menyiapkan diri menimatinya atau setidaknya menghindari kesia-siaan.
Bila nasi sudah menjadi bubur, mengapa tidak kita cari bawang daun, bawang goreng, kacang kedelai, kerupuk, kecap dan irisan daging ayam lalu kita bumbui bubur itu. Bukankah bubur itu akan menjadi bubur ayam lezat yang kita pun akan bergairah menikmatinya.

No comments:

Post a Comment

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT