Oleh : Achmad Siddik Thoha
Angkot hijau muda jurusan
Baranangsiang-Bubulak merayap pelan. Seperti biasa, Pasar Gunung Batu Bogor
menjadi titik pelambat kecepatan semua kendaraan karena kesibukannya.
Pemandangan umum dengan mudah terlihat di dalam kotak hijau muda bermesin dengan merek Daihatsu maupun di
dalam mobil pribadi, truk, angkutan sekolah dan motor. Semua mengeluh karena
macet. Macet membuat watak asli manusia muncul, Mengeluh, mengumpat dan
menyalahkan.
“Tiiiiiiin…..” bunyi klakson
bersahut-sahutan
“Woi, minggir kalau ambil penumpang.” Sopir
mobil pribadi bersuara lantang bak komandan memerintah pasukannya.
“Motor
sialan! Jalanmu sebelah
kanan, tahu peraturan jalan gak, sih?” Sopir truk kesal dengan pengendara motor yang mengambil jalannya dari arah
berlawanan.
“Waduh, kapan kita sampai, ya. Bisa diusir dosen nih, karena terlambat.” Seorang
mahasiswi di dalam angkot mulai gelisah sambil memegang tangan kawannya.
Suasana
berbeda terlihat pada seorang pemuda yang asyik mojok di salah satu angkot
hijau muda. Pemuda itu duduk santai
sambil memegang buku. Mulutnya komat-kamit menyuarakan isi bacaannya. Ternyata
dia seorang mahasiswa yang tiap hari naik angkot menuju kampusnya. Sama sekali
tidak tampak raut gelisah di wajahnya. Dia sangat menikmati kemacetan. Baginya
kemacetan adalah anugrah. Kemacetan telah membuat dirinya terbiasa membaca
dalam kondisi yang buat orang lain tidak nyaman. Kemacetan membantunya terbiasa
beristirahat sambil membaca dan menghafal.
“Dik, kamu kok bisa membaca di dalam angkot, ya? Saat macet begini kan panas
banget, nih,” tegur seorang ibu, salah satu penumpang angkot.
“Tadinya saya tidak biasa, Bu. Setelah sebulan saya jalani, ternyata saya bisa menikmati, Bu. Saya sudah sangat hafal dimana titik macet
dan berapa lama saya bisa tiba di kampus. Saya merasa dengan mengeluh dan
menyalahkan tidak akan ada gunanya. Toh saya tidak punya kemampuan merubahnya.
Lebih baik saya menikmatinya saja. Makanya saya bawa buku sebanyak-banyaknya
kalau naik angkot. Jadi setelah di rumah saya bisa mengerjakan pekerjaan lain.”
“Kamu tinggal di mana, Dik?” Penumpang perempuan ini mulai tertarik menggali
informasi.
“Di Babakan Fakultas, Bu. Di belakang Kampus IPB Baranangsiang.”
“Wah, itu kan 10 km dari kampus, ya. Tiap hari kamu ke kampus naik angkot?
Pasti pagi-pagi sekali kamu berangkat. Berapa lama sampai ke kampus?” Ibu itu
mencecar dengan pertanyaan karena kagumnya.
“Kalau pagi begini, satu setengah jam, Bu. Pulangnya juga begitu, Bu.”
“Kamu sungguh beruntung, Dik. Bisa memanfaatkan waktu dimana orang lain
justru melakukan hal yang sia-sia. Lihat saja, saat macet begini sebagian besar
orang memilih mengeluh, menyalahkan atau setidaknya hanya diam tanpa melakukan
apa-apa. Beda dengan kamu, kamu justru bisa melakukan hal
yang produktif.”
Angkot
hijau muda itu hampir merapat di terminal Bubluak. Ibu dan pemuda itu berpisah. Perjalanan pemuda itu
menembus kemacetan terus berlanjut. Jangan tanya tingkat kemacetan jalur
Bubulak-Kampus IPB Darmaga. Lebih parah daripada Jalur Baranangsiang - Bubulak.
Itu tak menjadi masalah bagi si pemuda karena dia siap menikmatinya dan memetik
manfaat yang besar dari kemacetan.
***
Sahabat,
pemuda itu telah memanfaatkan sesuatu yang tidak disukai orang menjadi
anugerah. Tidak hanya itu, dia bisa terhindar dari kesiaa-siaan. Ketika orang
lain mengeluh, mengumpat dan menyalahkan, dia tersenyum dan diam. Ketika orang
khawatir dengan kegiatannya, dia gembira karena berhasil memahami materi
kuliahnya. Saat orang lain merasa rugi karena waktunya terbuang, ia justru
memperoleh keberuntungan dengan bertambahnya ilmu.
Ada
pepatah terkenal yang mungkin kita ingat: “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan
lilin.”
Ya,
kita takkan bisa menghentikan gelap, karena itu diluar kuasa kita. Kita takkan
bisa mengubah apapun dengan mengeluh, menyalahkan dan mengutuk gelap, karena ia
pasti tiba. Biarlah gelap datang, karena ia membuat cahaya lilin begitu
berarti. Ia membuat bulan begitu cantik wajahnya. Ia membuat mata bisa
beristirahat. Ia juga mendatangkan kesejukan dan kesunyian yang diperlukan
makhluk.
Sahabat,
mengapa harus mengutuk macet, gelap atau sesuatu yang di luar kuasa kita,
karena ia bisa menjadi anugerah yang indah bagi kita. Mengapa harus mengeluhkan
sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Akan lebih baik bila kita menyiapkan diri
menimatinya atau setidaknya menghindari kesia-siaan.
Bila
nasi sudah menjadi bubur, mengapa tidak kita cari bawang daun, bawang goreng,
kacang kedelai, kerupuk, kecap dan irisan daging ayam lalu kita bumbui bubur
itu. Bukankah bubur itu akan menjadi bubur ayam lezat yang kita pun akan
bergairah menikmatinya.
No comments:
Post a Comment