Oleh : Teita Futsufeita
Aku masih ingat tawa mereka melihat
riak jernihku yang mengalir diantara daun-daun kehidupan. Kau pun tersenyum
melihat aku datang bersama kasih sayang langit, bahkan anak-anak menari riang
bersamaku. Mengalir udara-udara
kesejukan dalam istanaku yang teduh. Aku adalah nafas kehidupan.
Kau sangat mengenalku, bukan?
Pasti! karena kita adalah sahabat saat itu. Dulu, dulu sekali. Sebelum kau
menghianatiku. Pasti kau ingat ketika aku menyapamu santun menuju muara tak
bertepi. Tidak hanya kau yang kusapa tapi mereka, bahkan saudara-saudara
kecilku, bunga-bunga kecil yang tumbuh bersama sapaan ramahku. Indah bukan?
Bersamaku, atas nama persahabatan,
bangunan kokoh itu berdiri hingga hilang ketakutan mereka saat gulita.
Dan bodohnya aku memercayaimu.
Aku tak ingat sejak kapan kau
berubah tamak. Akupun heran mengapa kau
hancurkan istanaku dan kau usir aku? Bahkan rumah-rumah kecil hijau kawankupun
kau rampas. Apa salahku sehingga tak kau biarkan aku singgah dalam akar-akar
kehidupan?. Ah, mungkin kau lupa dengan janjimu--- aku menghibur diri.
Tapi begitu banyak istanaku kau
lenyapkan, sementara aku hanya mampu berjalan bersama angin sepi.
Aku kalut ketika tak kutemukan tempat
untuk singgah. Aku berlari cepat menerjang karena jalanan begitu licin, padahal
dulu tidak begitu. Kau sadari itu bukan?
Aku teriak. Suaraku parau.
Kulihat harapan ketika sebagian
bangsamu mendengarku. Mereka bangunkan
rumah untukku singgah. Pertemukan aku dengan sahabat pohon. Mereka berharap aku
tak menerjangkan gelombang. Mereka suarakan harapan persahabatanku. Cegah kau
hancurkan istanaku. Namun apa sikapmu? Dengan senyuman sinis kau patahkan
mereka. Dan istanaku, tetap kau hancurkan!.
Lihat ulahmu. Hebat! Kau berhasil
mengusirku cepat, namun kau masih juga salahkan aku. Apa maumu? Kau tertawa
dalam kubangan istanamu. Tapi kau tak lihat di bawah sana, bangsamu menangis
menyalahkan aku! Bahkan aku tak lagi
melihat bunga kecil itu tumbuh. Karena aku atau karena kau sebenarnya? Pintar
sekali kau menjadikanku kambing hitam!.
Dalam kelam perjalananku, aku melihat istanaku yang rata. Tak ada lagi
hijau. Pohon – pohon yang tersenyum menatap langit menyambut kedatangan hujan.
Sayap-sayap kecil yang bernyanyi dan hinggap dalam istanaku . Tiupan semilir.
Udara kesejukan. Nafas kehidupan. Teduhnya bumi yang rentangkan tanah untuk
kusapa. Bunga kecil yang tertawa riang. Semuanya hilang ketika kau ganti
istanaku dengan istana-istana cadas.
Kau tak ijinkan aku tinggal tapi
kau ijinkan mereka bangun istana cadas di tempat asalku. Hanya karena berduit
kah? Hoo, aku mengerti, persahabatanmu hanya lembaran-lembaran merah yang
sebentar lagi kulunturkan. Begitukah? Lalu, berapa hargamu?
Kau tahu, dalam kubanganku bisa
kulihat bangsamu rapuh. Aku menangis ketika mereka berduka karena aku. Aku
terluka ketika mereka binasa karena aku. Aku lara ketika mereka terhempas
karena aku. Namun siapa sebenarnya yang
salah? Aku? Kau? Atau mereka?
Aku
yang mengalir menuju samudera tak
bertepi, dan aku masih berharap : kembalikan hutan, istanaku!
No comments:
Post a Comment