Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (3) : Atas Nama Sahabat Air


Oleh : Teita Futsufeita
                                                       
Aku masih ingat tawa mereka melihat riak jernihku yang mengalir diantara daun-daun kehidupan. Kau pun tersenyum melihat aku datang bersama kasih sayang langit, bahkan anak-anak menari riang bersamaku.  Mengalir udara-udara kesejukan dalam istanaku yang teduh. Aku adalah nafas kehidupan.

Kau sangat mengenalku, bukan? Pasti! karena kita adalah sahabat saat itu. Dulu, dulu sekali. Sebelum kau menghianatiku. Pasti kau ingat ketika aku menyapamu santun menuju muara tak bertepi. Tidak hanya kau yang kusapa tapi mereka, bahkan saudara-saudara kecilku, bunga-bunga kecil yang tumbuh bersama sapaan ramahku. Indah bukan? Bersamaku, atas nama persahabatan,  bangunan kokoh itu berdiri hingga hilang ketakutan mereka saat gulita. Dan bodohnya aku memercayaimu.



Aku tak ingat sejak kapan kau berubah tamak. Akupun heran mengapa  kau hancurkan istanaku dan kau usir aku? Bahkan rumah-rumah kecil hijau kawankupun kau rampas. Apa salahku sehingga tak kau biarkan aku singgah dalam akar-akar kehidupan?. Ah, mungkin kau lupa dengan janjimu--- aku menghibur diri.

Tapi begitu banyak istanaku kau lenyapkan,  sementara  aku hanya mampu berjalan bersama angin sepi.

Aku kalut ketika tak kutemukan tempat untuk singgah. Aku berlari cepat menerjang karena jalanan begitu licin, padahal dulu tidak begitu. Kau sadari itu bukan?

Aku teriak. Suaraku parau.

Kulihat harapan ketika sebagian bangsamu mendengarku.  Mereka bangunkan rumah untukku singgah. Pertemukan aku dengan sahabat pohon. Mereka berharap aku tak menerjangkan gelombang. Mereka suarakan harapan persahabatanku. Cegah kau hancurkan istanaku. Namun apa sikapmu? Dengan senyuman sinis kau patahkan mereka. Dan istanaku, tetap kau hancurkan!.

Lihat ulahmu. Hebat! Kau berhasil mengusirku cepat, namun kau masih juga salahkan aku. Apa maumu? Kau tertawa dalam kubangan istanamu. Tapi kau tak lihat di bawah sana, bangsamu menangis menyalahkan  aku! Bahkan aku tak lagi melihat bunga kecil itu tumbuh. Karena aku atau karena kau sebenarnya? Pintar sekali kau menjadikanku kambing hitam!.

Dalam kelam perjalananku,  aku melihat istanaku yang rata. Tak ada lagi hijau. Pohon – pohon yang tersenyum menatap langit menyambut kedatangan hujan. Sayap-sayap kecil yang bernyanyi dan hinggap dalam istanaku . Tiupan semilir. Udara kesejukan. Nafas kehidupan. Teduhnya bumi yang rentangkan tanah untuk kusapa. Bunga kecil yang tertawa riang. Semuanya hilang ketika kau ganti istanaku dengan istana-istana cadas.

Kau tak ijinkan aku tinggal tapi kau ijinkan mereka bangun istana cadas di tempat asalku. Hanya karena berduit kah? Hoo, aku mengerti, persahabatanmu hanya lembaran-lembaran merah yang sebentar lagi kulunturkan. Begitukah? Lalu, berapa hargamu?

Kau tahu, dalam kubanganku bisa kulihat bangsamu rapuh. Aku menangis ketika mereka berduka karena aku. Aku terluka ketika mereka binasa karena aku. Aku lara ketika mereka terhempas karena aku.  Namun siapa sebenarnya yang salah? Aku? Kau? Atau mereka?

Aku  yang  mengalir menuju samudera tak bertepi, dan aku masih berharap : kembalikan hutan, istanaku!

No comments:

Post a Comment

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT