Oleh: Achmad
Siddik Thoha
Di
sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya
tumbuh sebatang pohon besar. Daunnya rindang, batangnya besar, tingginya
menjulang dan buahnya lebat. Tiap hari menjelang matahari terbit, petani
mengajak anaknya yang berusia delapan tahun duduk di bawah pohon. Petani itu
mengajarkan anaknya berbicara dengan pohon. Petani juga menyuruh anaknya
merawat pohon tiap pagi, siang, dan sore. Petani menyuruh anaknya menyiram,
membersihkan rerumputan di sekitarnya dan melepaskan ranting-ranting kering
pohon yang hampir jatuh.
Suatu
pagi, sang anak sangat murung. Ia duduk di bawah pohon besar. Pohon besar
memperhatikan dengan seksama.
“Ada
yang tidak biasa dengan anak petani ini. Biasanya ia selalu didampingi oleh
ayahnya saat duduk di bawahku,” bisik Pohon Besar.
Sayup-sayup,
anak petani ini mendengar suara bisikan. “Adik kecil… ada apa denganmu?”
Anak
petani ini kaget. Namun ia belum sadar darimana asal suara tersebut.
Pelan-pelan telinganya didekatkan pada pohon besar.
“Hah…
ini kau, Pohon? Kau bisa bicara, ya?” Si anak petani terperanjat.
“Benar
adik kecil, kau telah bisa memahami bahasaku, karena orang yang sangat dekat
denganku telah mengajarimu,” jawab Pohon Besar. “Ada apa denganmu, Adik kecil?
Nampakya kau sedih ya?”
Anak
petani mendesah. “Ya, ayahku sedang sakit, Pohon. Beliau tak ada uang lagi
untuk membeli makanan dan obat. Itu yang membuatku sangat sedih sekarang...”
Pohon
besar menundukkan dahannya yang besar. “Adik kecil, kau petiklah daunku.
Daun-daunku banyak dibutuhkan orang untuk makanan ternak. Mudah-mudahan bisa
untuk membeli makanan dan obat...”
Tanpa
pikir panjang, anak petani itu langsung merayap naik ke Pohon Besar. Dipetiknya
daun-daun pohon hingga bagian atasnya tinggal ranting dan batang, seperti baru
saja merontokkan daun.
Pohon
besar tersenyum karena sang petani akan bisa berobat dengan daun pemberiannya. Esoknya,
Pohon Besar kembali melihat anak petani duduk dengan murung. Anak petani dengan
lirih berkata.
“Besok kami harus banyak memasak karena ada
pesta pernikahan keluarga ayah. Dan itu pasti membutuhkan banyak kayu bakar.
Kalau kami tidak mendapatkan kayu bakar, batallah pesta pernikahan anak saudara
ayahku satu-satunya.”
“Ambillah
cabang dan ranting-rantingku, Adik Kecil. Kayuku ini sangat baik untuk
memasak.” Pohon besar kembali memberikan jawaban atas kegelisahan si anak
petani.
Tanpa
pikir panjang, ditebasnya batang dan cabang sebanyak-banyaknya.
Kini tinggallah batang besar sang pohon dengan penampilan yang nampak menyedihkan, tanpa daun, ranting dan cabang. Namun, esok hari pohon besar tetap saja menjumpai si anak berdiri murung di bawahnya.
Kini tinggallah batang besar sang pohon dengan penampilan yang nampak menyedihkan, tanpa daun, ranting dan cabang. Namun, esok hari pohon besar tetap saja menjumpai si anak berdiri murung di bawahnya.
Anak
itu kemudian berucap pelan, “Kawanku hanyut di sungai tadi pagi, Pohon... Tiga
orang sekaligus tenggelam. Orangtua mereka sangat sedih. Orang kampung
membutuhkan perahu untuk mencari mereka.”
Pohon
besar tersenyum lebar, katanya kemudian, “Tak apa, Adik kecil... Ambillah
batangku yang besar ini, ia akan jadi perahu yang kuat.”
Dengan
cepat, anak petani ini memanggil warga desa. Beramai-ramai warga desa menebang,
memotong, dan membuat perahu dari batang si Pohon Besar. Kini Pohon Besar itu
tak nampak lagi berdiri. Hanya tersisa akar-akar yang menonjol dan menjulur di
atas tanah.
Esok
harinya, dengan lunglai si anak petani kembali mendatangi pohon besar yang
tinggal akarnya ini. Pohon besar menyapa lebih dulu. “Bagaimana kawanmu, Adik Kecil?
Apakah telah kalian temukan?”
“Huuhuuhuu…
huhuhuhuhu...” tangis si anak petani akhirnya meledak. “Kawanku sudah meninggal,
aku tak lagi memiliki teman untuk bermain, Pohon...” jawab si anak petani
sesenggukan.
“Berbaringlah,
peluklah akar-akarku, kau pasti merasa lebih baik. Aku akan setia
menemanimu...”
Pohon
besar mengeluarkan udara sejuk dari akar-akarnya hingga si anak petani tertidur.
***
Pohon
memang bisa memenuhi kebutuhan manusia yang sangat banyak. Tidak hanya
kebutuhan materi, pohon bisa meredakan gemuruh kesedihan, menurunkan gejolak
amarah dan menjernihkan kotoran-kotoran pikiran. Namun tetaplah ingat, pohon
adalah makhluk-Nya yang hidup. Ia akan merasakan sakit, terkadang menangis, dan
juga senang. Pohon juga bersujud dan mengagungkan kebesaran-Nya lewat caranya
sendiri.
Pohon
mengajarkan pada kita tentang ketulusan dalam memberi sampai pada titik akhir
kemampuannya. Apa yang dimiliki pohon tak ada yang sia-sia, bahkan sampai
tinggal akar pun pohon tetap bisa memberi dan terus memberikan manfaatnya.
Sahabat,
sosok pohon besar mengingatkan kita pada sosok orang tua kita. Ketulusan,
pengorbanan, kasih sayang dan tanggung jawabnya yang sangat besar tak surut
walau tingkah anak-anaknya sangat tidak patut. Orang tua kita memiliki
kelapangan hati yang tak bertepi, ketulusan jiwa yang tak berujung dan kasih
sayang yang tak berbalas. Saat kita secara sengaja atau tidak sengaja menyakiti
hati mereka, mereka takkan pernah membalasnya bila mereka orang tua yang
sejati. Justru mereka membalasnya dengan kasih sayang yang tak berkurang
kadarnya dan doa yang tak berkurang panjangnya.
Sahabat,
orang tua kita, khususnya ibu, sangat pantas menjadi orang yang kita taati dan
ikuti perintahnya setelah Tuhan. Tak ada upaya yang sanggup membalas pemberian
mereka. Takkan pernah kita mampu memberikan jasa setara dengan jasa beliau.
Sekaya dan sekuasa apa pun kita, mereka tetap lebih mulia daripada kita.
Mereka mungkin hanya berharap, kita bisa meneruskan ketulusan, pengorbanan, kasih sayang dan rasa tanggung jawab yang besar pada anak-anak kita kelak.
Mereka mungkin hanya berharap, kita bisa meneruskan ketulusan, pengorbanan, kasih sayang dan rasa tanggung jawab yang besar pada anak-anak kita kelak.
No comments:
Post a Comment