Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Daunnya rindang, batangnya besar, tingginya menjulang dan buahnya lebat. Tiap hari menjelang matahari terbit, petani mengajak anaknya yang berusia delapan tahun duduk di bawah pohon. Petani itu mengajarkan anaknya berbicara dengan pohon. Petani juga menyuruh anaknya merawat pohon tiap pagi, siang, dan sore. Petani menyuruh anaknya menyiram, membersihkan rerumputan di sekitarnya dan melepaskan ranting-ranting kering pohon yang hampir jatuh.


Suatu pagi, sang anak sangat murung. Ia duduk di bawah pohon besar. Pohon besar memperhatikan dengan seksama.
“Ada yang tidak biasa dengan anak petani ini. Biasanya ia selalu didampingi oleh ayahnya saat duduk di bawahku,” bisik Pohon Besar.
Sayup-sayup, anak petani ini mendengar suara bisikan. “Adik kecil… ada apa denganmu?”
Anak petani ini kaget. Namun ia belum sadar darimana asal suara tersebut. Pelan-pelan telinganya didekatkan pada pohon besar.
“Hah… ini kau, Pohon? Kau bisa bicara, ya?” Si anak petani terperanjat.
“Benar adik kecil, kau telah bisa memahami bahasaku, karena orang yang sangat dekat denganku telah mengajarimu,” jawab Pohon Besar. “Ada apa denganmu, Adik kecil? Nampakya kau sedih ya?”
Anak petani mendesah. “Ya, ayahku sedang sakit, Pohon. Beliau tak ada uang lagi untuk membeli makanan dan obat. Itu yang membuatku sangat sedih sekarang...”
Pohon besar menundukkan dahannya yang besar. “Adik kecil, kau petiklah daunku. Daun-daunku banyak dibutuhkan orang untuk makanan ternak. Mudah-mudahan bisa untuk membeli makanan dan obat...”
Tanpa pikir panjang, anak petani itu langsung merayap naik ke Pohon Besar. Dipetiknya daun-daun pohon hingga bagian atasnya tinggal ranting dan batang, seperti baru saja merontokkan daun.
Pohon besar tersenyum karena sang petani akan bisa berobat dengan daun pemberiannya. Esoknya, Pohon Besar kembali melihat anak petani duduk dengan murung. Anak petani dengan lirih berkata.
 “Besok kami harus banyak memasak karena ada pesta pernikahan keluarga ayah. Dan itu pasti membutuhkan banyak kayu bakar. Kalau kami tidak mendapatkan kayu bakar, batallah pesta pernikahan anak saudara ayahku satu-satunya.”
“Ambillah cabang dan ranting-rantingku, Adik Kecil. Kayuku ini sangat baik untuk memasak.” Pohon besar kembali memberikan jawaban atas kegelisahan si anak petani.
Tanpa pikir panjang, ditebasnya batang dan cabang sebanyak-banyaknya.
Kini tinggallah batang besar sang pohon dengan penampilan yang nampak menyedihkan, tanpa daun, ranting dan cabang. Namun, esok hari pohon besar tetap saja menjumpai si anak berdiri murung di bawahnya.
Anak itu kemudian berucap pelan, “Kawanku hanyut di sungai tadi pagi, Pohon... Tiga orang sekaligus tenggelam. Orangtua mereka sangat sedih. Orang kampung membutuhkan perahu untuk mencari mereka.”
Pohon besar tersenyum lebar, katanya kemudian, “Tak apa, Adik kecil... Ambillah batangku yang besar ini, ia akan jadi perahu yang kuat.”
Dengan cepat, anak petani ini memanggil warga desa. Beramai-ramai warga desa menebang, memotong, dan membuat perahu dari batang si Pohon Besar. Kini Pohon Besar itu tak nampak lagi berdiri. Hanya tersisa akar-akar yang menonjol dan menjulur di atas tanah.
Esok harinya, dengan lunglai si anak petani kembali mendatangi pohon besar yang tinggal akarnya ini. Pohon besar menyapa lebih dulu. “Bagaimana kawanmu, Adik Kecil? Apakah telah kalian temukan?”
“Huuhuuhuu… huhuhuhuhu...” tangis si anak petani akhirnya meledak. “Kawanku sudah meninggal, aku tak lagi memiliki teman untuk bermain, Pohon...” jawab si anak petani sesenggukan.
“Berbaringlah, peluklah akar-akarku, kau pasti merasa lebih baik. Aku akan setia menemanimu...”

Pohon besar mengeluarkan udara sejuk dari akar-akarnya hingga si anak petani tertidur.
***
Pohon memang bisa memenuhi kebutuhan manusia yang sangat banyak. Tidak hanya kebutuhan materi, pohon bisa meredakan gemuruh kesedihan, menurunkan gejolak amarah dan menjernihkan kotoran-kotoran pikiran. Namun tetaplah ingat, pohon adalah makhluk-Nya yang hidup. Ia akan merasakan sakit, terkadang menangis, dan juga senang. Pohon juga bersujud dan mengagungkan kebesaran-Nya lewat caranya sendiri.
Pohon mengajarkan pada kita tentang ketulusan dalam memberi sampai pada titik akhir kemampuannya. Apa yang dimiliki pohon tak ada yang sia-sia, bahkan sampai tinggal akar pun pohon tetap bisa memberi dan terus memberikan manfaatnya.
Sahabat, sosok pohon besar mengingatkan kita pada sosok orang tua kita. Ketulusan, pengorbanan, kasih sayang dan tanggung jawabnya yang sangat besar tak surut walau tingkah anak-anaknya sangat tidak patut. Orang tua kita memiliki kelapangan hati yang tak bertepi, ketulusan jiwa yang tak berujung dan kasih sayang yang tak berbalas. Saat kita secara sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati mereka, mereka takkan pernah membalasnya bila mereka orang tua yang sejati. Justru mereka membalasnya dengan kasih sayang yang tak berkurang kadarnya dan doa yang tak berkurang panjangnya.
Sahabat, orang tua kita, khususnya ibu, sangat pantas menjadi orang yang kita taati dan ikuti perintahnya setelah Tuhan. Tak ada upaya yang sanggup membalas pemberian mereka. Takkan pernah kita mampu memberikan jasa setara dengan jasa beliau. Sekaya dan sekuasa apa pun kita, mereka tetap lebih mulia daripada kita.
Mereka mungkin hanya berharap, kita bisa meneruskan ketulusan, pengorbanan, kasih sayang dan rasa tanggung jawab yang besar pada anak-anak kita kelak.

No comments:

Post a Comment

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT