Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (2) : Memadamkan Api Emosi


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Keberadaan hutan semakin terancam. Banyak penyebab yang mengakibatkan hutan kita semakin menyusut. Penebangan tidak terkendali tanpa menanam kembali, perladangan yang merusak hutan, perubahan lahan hutan menjadi kebun dan ladang serta kebakaran dan pembakaran hutan. Hutan sangat cepat ludes saat terserang kebakaran.  Musim kemarau yang panjang dan suhu yang sangat tinggi mengancam keberadaan hutan kita. Saat hutan terbakar sangat sulit mengendalikan penjalaran api. Mungkin hanya hujanlah yang bisa memadamkan kebakaran hebat di hutan.
Dalam teori kebakaran, kebakaran atau api hanya akan terjadi bila terdapat tiga unsur yang dikenal dengan segitiga api. Tiga unsur dalam segitiga api itu yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau api. Salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka api tidak akan terjadi.


Selain menjadi penentu terjadinya api, bahan bakar juga menentukan besar kecilnya api. Bahan bakar yang kering akan menimbulkan api yang menyala dan pembakarannya sempurna.  Sedangkan bahan bakar yang basah akan lambat terbakar dan hasilnya lebih banyak asap yang keluar. Basah dan keringnya bahan bakar adalah sifat penting utama dalam bahan bakar disamping jenis bahan bakar, halus kasarnya bahan bakar, kesinambungan bahan bakar, dan sifat-sifat lainnya.
Oksigen menentukan api berkobar dan berkembang cepat. Tanpa oksigen, api akan mati. Cobalah kita menyalakan lilin, kemudian lilin itu ditutup dengan gelas. Lama-kelamaan api itu akan padam sendiri karena oksigen dalam gelas juga habis. Memutus oksigen ke dalam kobaran api, adalah salah satu jalan memadamkan api.
Sumber panas atau api pemicu adalah hal unsur penting ketiga dalam terjadinya kebakaran. Melimpahnya bahan bakar yang kering dan tersedianya oksigen yang banyak tak akan menimbulkan kebakaran bila tidak ada api yang menyulutnya. Sumber api bisa berasal secara tidak sengaja seperti percikan dari hubungan pendek listrik, meledaknya tabung gas atau petir. Sumber api seringkali berasal dari kelalaian dan kesengajaan manusia.
Bila emosi manusia diibaratkan api, maka besar kecilnya akan dipengaruhi setidaknya oleh tiga hal pula. Bahan bakarnya adalah iman, oksigennya adalah hembusan bisikan syetan, dan sumber apinya adalah konflik atau masalah.
Iman yang kuat sangat menentukan besar tidaknya emosi terbakar.  Bila iman kita basah dengan petunjuk-Nya, konflik atau masalah yang datang setidaknya hanya akan menimbulkan api kecil dan asap saja. Semakin basah iman kita dengan petunjuk-Nya maka masalah atau konflik akan padam dengan sendirinya, meskipun syetan menghembus-hembuskan bisikan mautnya.
Iman yang lemah laksana bahan bakar yang sangat kering. Sedikit saja masalah timbul, maka hembusan bisikan syetan akan berkobar menjadi amarah yang menimbulkan konflik yang sulit dipadamkan. Iman yang kering dari petunjuk-Nya seringkali sulit dipadamkan bila sudah terbakar. Butuh “air” yang sangat banyak untuk memadamkan amarah dari orang-orang dengan iman yang kering kerontang ini.
Meredam emosi yang paling efektif adalah dengan senntiasa membasahi iman agar senantiasa dingin, sejuk, dan bisa memadamkan percikan hasutan syetan. Iman yang basah dengan petunjuk dari-Nya akan senantiasa dapat memadamkan api iri, dengki, hasut, benci, dan dendam. Selamat membasahi bahan bakar iman kita dengan senantiasa mengikuti petunjuk-Nya dan memohon “air” pelindungan dari-Nya agar terputus dari hembusan angin hasut dari syetan.

No comments:

Post a Comment

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT