Oleh: Achmad
Siddik Thoha
Keberadaan hutan semakin terancam. Banyak
penyebab yang mengakibatkan hutan kita semakin menyusut. Penebangan tidak
terkendali tanpa menanam kembali, perladangan yang merusak hutan, perubahan
lahan hutan menjadi kebun dan ladang serta kebakaran dan pembakaran hutan.
Hutan sangat cepat ludes saat terserang kebakaran. Musim kemarau yang panjang dan suhu yang
sangat tinggi mengancam keberadaan hutan kita. Saat hutan terbakar sangat sulit
mengendalikan penjalaran api. Mungkin hanya hujanlah yang bisa memadamkan
kebakaran hebat di hutan.
Dalam teori kebakaran, kebakaran atau api
hanya akan terjadi bila terdapat tiga unsur yang dikenal dengan segitiga api.
Tiga unsur dalam segitiga api itu yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas
atau api. Salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka api tidak akan terjadi.
Selain menjadi penentu terjadinya api, bahan
bakar juga menentukan besar kecilnya api. Bahan bakar yang kering akan
menimbulkan api yang menyala dan pembakarannya sempurna. Sedangkan bahan bakar yang basah akan lambat
terbakar dan hasilnya lebih banyak asap yang keluar. Basah dan keringnya bahan
bakar adalah sifat penting utama dalam bahan bakar disamping jenis bahan bakar,
halus kasarnya bahan bakar, kesinambungan bahan bakar, dan sifat-sifat lainnya.
Oksigen menentukan api berkobar dan berkembang
cepat. Tanpa oksigen, api akan mati. Cobalah kita menyalakan lilin, kemudian lilin
itu ditutup dengan gelas. Lama-kelamaan api itu akan padam sendiri karena oksigen
dalam gelas juga habis. Memutus oksigen ke dalam kobaran api, adalah salah satu
jalan memadamkan api.
Sumber panas atau api pemicu adalah hal
unsur penting ketiga dalam terjadinya kebakaran. Melimpahnya bahan bakar yang
kering dan tersedianya oksigen yang banyak tak akan menimbulkan kebakaran bila
tidak ada api yang menyulutnya. Sumber api bisa berasal secara tidak sengaja
seperti percikan dari hubungan pendek listrik, meledaknya tabung gas atau
petir. Sumber api seringkali berasal dari kelalaian dan kesengajaan manusia.
Bila emosi manusia diibaratkan api, maka
besar kecilnya akan dipengaruhi setidaknya oleh tiga hal pula. Bahan bakarnya
adalah iman, oksigennya adalah hembusan bisikan syetan, dan sumber apinya
adalah konflik atau masalah.
Iman
yang kuat sangat menentukan besar tidaknya emosi terbakar. Bila iman kita basah dengan petunjuk-Nya,
konflik atau masalah yang datang setidaknya hanya akan menimbulkan api kecil
dan asap saja. Semakin basah iman kita dengan petunjuk-Nya maka masalah atau
konflik akan padam dengan sendirinya, meskipun syetan menghembus-hembuskan
bisikan mautnya.
Iman
yang lemah laksana bahan bakar yang sangat kering. Sedikit saja masalah timbul,
maka hembusan bisikan syetan akan berkobar menjadi amarah yang menimbulkan
konflik yang sulit dipadamkan. Iman yang kering dari petunjuk-Nya seringkali
sulit dipadamkan bila sudah terbakar. Butuh “air” yang sangat banyak untuk
memadamkan amarah dari orang-orang dengan iman yang kering kerontang ini.
Meredam
emosi yang paling efektif adalah dengan senntiasa membasahi iman agar
senantiasa dingin, sejuk, dan bisa memadamkan percikan hasutan syetan. Iman
yang basah dengan petunjuk dari-Nya akan senantiasa dapat memadamkan api iri,
dengki, hasut, benci, dan dendam. Selamat membasahi bahan bakar iman kita
dengan senantiasa mengikuti petunjuk-Nya dan memohon “air” pelindungan dari-Nya
agar terputus dari hembusan angin hasut dari syetan.
No comments:
Post a Comment