Oleh: Achmad Siddik Thoha
Pada sebuah diskusi tentang konservasi
burung di Indonesia, ada sebuah hal menarik yang sulit saya lupakan. Pemateri
tentang perkembangan perkembangan penelitian burung di Indonesia yaitu Bapak
Yus Rusila Noor, seorang ornitolog (ahli burung) spesialis burung air memulai
pembiacaraanya dengan sebuah pertanyaan menarik.
“Siapa yang mengisi buku catatannya selama birdwatching (pengamatan burung) tadi?
Coba tunjukkan buku kalian.”
Terlihat hanya kurang dari separuh birdwatcher (pengamat burung) yang
mengacung, termasuk saya. Saya pun hanya mengisi sedikit catatan selama 3 jam
berkeliling Kebun raya Bogor sejak pukul 7 pagi. Maklum ini untuk pertama
kalinya saya melalukan pengamatan burung secara serius dengan para pengamat
burung yang berpengalaman.
“Ilmu tentang burung berkembang dari
buku-buku catatan kecil seperti yang kalian pegang. Ini buku yang saya pakai
sejak tahun 1980-an.”
Pak Yus, demikian beliau dipanggil,
memperlihatkan buku tulis kecil yang tebal, yang sering disebut “notes” dengan cover tebal yang dilekatkan lakban
hitam. Bukunya nampak kucel dan warna nya buram. Namun ketika beliau membuka
lembar demi lembar isi catatannya terlihat begitu rapi dan detil. Terlihat pula
sketsa burung meski sangat sederhana. Luar biasa, bayangkan sudah 30 tahun buku
dan isinya masih terawat.
“Buku kecil tebal ini isinya lebih rapi dan
detail. Sedangkan untuk di lapangan, saya memakai ini.” Beliau menunjukkan
sebuah buku lebih kecil seukuran 15 x 8 cm dengan spiral dipinggirnya.
“Yang kecil ini saya catat apa pun yang saya
ingat, termasuk berapa ongkos naik ojek beli gorengan, beli buras, (nasi yang
dibungkus daun berukuran kecil seperti lontong) dan lain-lain. Setelah itu baru
dipindah ke buku yang lebih besar dengan catatan yang lebih rapi dan mudah
dipahami.”
Beliau lalu melanjutkan, “Sebagai seorang birdwatcher, kejujuran adalah hal pertama. Kedua adalah menumbuhkan rasa
percaya diri dengan apa yang kita temukan. Ketiga disiplin dan konsisten dengan waktu pengamatan dan keempat. Kita
harus tahu diri dan dapat mengontrol diri. Itu filosofi yang harus benar-benar
dihayati dan diparkatekkan di lapangan. Kenapa saya menunjukkan buku kecil
ini?” Pak Yus membuka sebuah pertanyaan renungan pada peserta diskusi.
“Kalian jangan terlalu percaya diri dengan otak atau memori. Paling lama
kita hanya bisa mengingat sesuatu dalam hitungan jam, setelah itu lupa. Catatan
ini akan sangat berguna untuk secara pasti kita mengingat obyek dan kejadian
yang kita temui secara detil. Tulis apa saja yang kalian temukan. Milikilah buku catatan sebanyak
mungkin. Teman saya dari Jerman ini setiap bulan mengganti buku catatan
tebalnya dengan yang baru.” Beliau menunjuk wanita Jerman yang diketahui
bernama Bea Maas disampingnya yang juga menjadi pembicara dalam diskusi ini.
“Yeah,
I always start new book every month. Everything what I thought, I have to write
here,” tegas Miss Bea Maas, seorang peneliti burung Kandidat Doktor dari
Gottingen University seolah menegaskan betapa pentingnya mencatat segala hal.
Saya merasa mendapat pejaran sangat berharga
hari ini. “Mencatat, mencatat, mencatat lalu memelihara catatan-catatan itu,” gumam
hati saya saat itu.
Di
masyarakat kita, budaya mencatat sangatlah minim. Kita lihat masyarakat lebih
suka mendengar dan berbicara dari pada mencatat dan menuliskan kembali
catatannya. Lihatlah ketika acara
seminar, kuliah, pelatihan atau kunjungan, berapa banyak orang yang mencatat di
acara tersebut. Mereka terlihat sangat percaya diri dengan otak mereka.
Akhirnya, orang-orang yang tak mencatat itu kebingungan saat ada sesi evaluasi
karena tak ada yang bisa diingatnya kembali.
Orang
yang tak mencatat merasa aman karena sekarang pembicaraan bisa direkam. Catatan
bisa pinjam dan menfoto copynya dari teman. Diktat atau modul juga tinggal
dibeli. Namun seberapa jauh kepahaman
orang yang tak pernah mencatat saat membaca catatan orang lain yang belum tentu
bisa dibaca. Seberapa ingat orang tak
mencatat ketika mendengar rekaman yang kita tak mengikutinya.
Budaya
mencatat lahir di kalangan bangsa yang maju. Saya sendiri sering membaca sebuah
buku laris yang ternyata lahir dari catatan-catatan perjalanan. Bahkan sebuah buku ilmiah yang sangat
berguna, seperti buku panduan lapangan pengenalan jenis tumbuhan dan hewan
lahir dari ketekunan peneliti merawat dan menuliskan kembali catatannya. Para
ulama juga melahirkan karya besar dengan tekun membuat catatan dan merawatnya.
Kitab-kitab suci terpelihara karena dituliskan kembali dengan detil oleh
penulis yang tekun. Bisa dibayangkan, bagaimana kalau budaya mencatat ini
hilang, maka ilmu pun akan lenyap.
Saya
teringat sebuah kata mutiara dari Ali RA, “Ilmu itu laksana binatang buruan, maka jeratlah ia
dengan menuliskannya.” Kata mutiara ini langsung teringat saat saya melihat Pak
Yus menunjukkan buku catatannya.
Dan
bukankah dalam Alquran, Allah menyuruh manusia untuk menulis, disamping
membaca.
“Nun, demi Qalam (pena) dan apa yang telah mreka tulis.” (Al Qolam/68:1)
Bagi
saya, mencatat adalah sarana kita untuk terus hidup dan menghidupkan. Hidup karena kita bisa berbagi pada yang
lain. Menghidupkan, kalau ada catatan kita yang membangkitkan semangat orang
lain. Bukankah orang yang hidup adalah yang masih sanggup berbagi dan tak
kehilangan semangatnya. Orang yang banyak catatannya akan dikenang karya dan
mengalir kebaikannya sepanjang masa. Ia
tetap hidup jiwa dan pikirannya meski jasadnya lenyap.
No comments:
Post a Comment