Sebuah institusi perguruan tinggi mengadakan acara ‘survival weekend’ di sebuah hutan sebagai kegiatan wajib bagi para mahasiswa baru. Mereka diharuskan menempuh jalur ‘tracking’ tertentu seorang diri, dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Namun karena para pesertanya adalah mahasiswa yang awam dengan kondisi hutan, maka peraturan yang diberikan pun cenderung longgar. Bagi mereka yang sudah merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, diperbolehkan melepaskan suar asap ke angkasa sebagai tanda bahwa dia membutuhkan pertolongan tim penyelamat.
Acara dimulai. Setelah berdoa bersama, seratus peserta kemudian dilepas ke medan survival. Ditargetkan, dalam tempo paling lama tiga hari, seluruh peserta sudah dapat berkumpul kembali di titik finish.
Fajar hari ketiga mulai menyingsing. Para peserta satu demi satu pun berhasil mencapai tujuan dengan selamat. Menjelang siang, tersisalah tiga peserta yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Namun ketika waktu bergulir sore, tampaklah berturut-turut tiga suar asap dilepaskan ke angkasa di tiga titik yang berbeda. Tim penyelamat pun bergegas menuju ke tiga titik lokasi itu.
Di titik terdekat, mereka menemukan calon mahasiswa yang lemas dan kelaparan karena kehabisan bekal makanan. Mengaku sudah sangat lemas, lapar dan pusing, ia merasa tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan.
Mahasiswa yang melepaskan suar asap ke angkasa pada titik kedua tampak lebih menyedihkan. Rupanya dia kehabisan bekal air karena sebagian minumannya tak sengaja tumpah dalam perjalanan. Ia mengalami dehidrasi. Tim penyelamat pun segera menolong peserta yang malang tersebut.
Pada titik ketiga, tim penyelamat menemukan kondisi peserta yang lebih mengenaskan lagi. Tatapannya kosong. Jantungnya berderap kencang. Air mata tampak bergulir di pipinya. Badannya tampak sangat lemah hingga bahkan untuk duduk pun ia bagaikan tak sanggup. Namun anehnya, ketika ranselnya dibuka, tim penyelamat menemukan bahwa bekal makanan dan minumannya masih tersedia lebih dari cukup untuk sekedar menyelesaikan perjalanan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Di tenda di basecamp panitia, peserta terakhir yang ditemukan itu menceritakan kejadian yang dialaminya. Ia yang belum terbiasa mandiri, ternyata merasa ketakutan dan kehilangan harapan untuk menyelesaikan jalur yang diberikan seorang diri. Makin lama ia merasa makin bingung dan mulai dihantui rasa putus asa. Pikirannya digelayuti hal-hal yang buruk dan tak menentu. Cemas yang berlebihan menggerogoti hati dan semangatnya. Jantungnya berdegup kencang dan ia mulai merasa sulit untuk bernafas. Makin lama nyala harapannya makin redup hingga akhirnya benar-benar padam. Dalam keadaan hampa, jarinya akhirnya bergerak untuk memantik suar asap ke angkasa untuk memanggil tim penyelamat.
***
Sahabat, kita sanggup bertahan beberapa waktu tanpa makan atau bahkan tanpa minum. Namun jangan biarkan diri ini kehilangan harapan walau sesaat saja. Pada detik-detik rawan itulah terjadi berbagai kasus tragis yang kerap kita baca di surat kabar.
Harapan adalah cahaya. Ia memberikan energi pada kita untuk bergerak memperjuangkan cita-cita, konsisten mengejar impian. Harapan memberikan kita kekuatan untuk tersenyum kala ujian hidup menyapa. Harapan mampu membuat kita menegakkan punggung dan menghadapi masa depan dengan binar di mata.
Sahabat, jangan biarkan cahaya harapan meredup di hati kita. Jika nyalanya mulai melemah, paksakan diri kita untuk bangkit. Bacalah tulisan-tulisan motivasi, bicaralah pada orang yang sekiranya akan merespon kita dengan positif. Sahabat, bergeraklah, keluarlah, tataplah langit yang cerah. Tersenyumlah pada dunia. Yakinlah bahwa Dia selalu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Yakinlah Sahabat, Dia dan pertolonganNya senantiasa dekat. Gantungkan harapmu hanya padaNya, jangan biarkan apapun juga memupuskan cahaya harapan dari hati kita.
No comments:
Post a Comment