Saturday, May 12, 2018

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (4) : Hanya Batu Kusam


Oleh: Achmad Siddik Thoha

Lelaki itu melihat sesuatu yang ganjil di tengah jalan. Didekatinya benda yang menarik hatinya. Ternyata hanya sebuah batu lusuh. Diusap-usapnya batu itu. Lama-lama batu itu tambah mengkilat. Benda itu cukup membersitkan harapan baginya.
Terbayang istrinya di rumah yang telah lama minta dibelikan lemari. Benar, pakaiannya berantakan di kamar karena lemari kecil sejak menikah dulu sudah tak muat lagi. Lalu pikirannya beralih ke Nanda, anak satu-satunya yang sudah 3 bulan menunggak uang sekolah. Beberapa kali permintaan anaknya untuk membelikan buku dia tolak secara halus.


Ah, ini mungkin rizki mereka,” desah lelaki itu.
Dengan penuh harap, dibawanya batu mengkilat ke toko permata. Ternyata toko permata menolak batu tersebut dan menyarankan dia membawanya ke toko cincin batu. Nasibnya beruntung, batu tersebut dihargai Rp. 200.000,-.
Lemari baju belum cukup kubeli dengan uang sebesar ini, apalagi buku buat Nanda,” keluhnya. Akhirnya dia menemukan seorang yang sedang membelah kayu di pekarangan. Dia kemudian menawar kayu tersebut dengan semua uang yang dimilikinya. Dengan kemurahan hati pemilik kayu, dia membawa kayu dengan gerobak ke rumahnya. Dia masih berharap bisa membuat satu lemari baju yang layak buat istrinya.
Di tengah jalan, dia melewati toko meubel. Pemilik meubel sangat tertarik dengan kayu yang teksturnya sangat indah itu. Kebetulan dia sedang ada order meubel yang harus segera selesai. Pemilik meubel memanggil lelaki pembawa kayu itu. Ditawarnya kayu itu seharga Rp. 500.000,-. Lelaki itu terdiam lama. Akhirnya dia meminta kayunya ditukar dengan sebuah lemari. Atas kebaikan pemilik meubel, lelaki itu berhasil membawa lemari dengan gerobak.
Lelaki itu dengan susah payah membawa lemari ke rumahnya. Ia berharap istrinya senang dengan hasil keringatnya hari ini. Perjalanan melewati perumahan mewah. Tak disangka, ada seorang pemilik rumah memangilnya.
Pak, kemari, Pak. Berapa lemari ini dijual?” panggil seorang ibu setengah baya.
“Wah, ini gak dijual, Bu,” tegas lelaki itu.
“Saya butuh lemari untuk melengkapi ruang tamu pak. Lemari ini sangat cocok dan bagus. Bagaimana kalau saya beli dua juta, Pak,” desak ibu itu.
Lelaki itu terdiam. Tapi hatinya berkecamuk, antara menerima tawaran harga yang tinggil dan kehilangan lemari. “Ah, aku kan bisa beli dua lemari dan buku anakku dengan dua juta,” bisiknya dalam hati.
Dengan mata berbinar, lelaki itu membawa segepok uang. Ketika melewati jalanan sepi, tiba-tiba dari semak-semak muncul dua orang seram dengan senjata parang di tangannya. Dalam sekejap mereka merampas uang dari lelaki itu. Sementara tak jauh dari tempat itu kebetulan sang istri lelaki itu lewat. Dia mendengar suaminya berteriak.
“Ada apa, Pak? Kamu dirampok ya, Pak. Apa yang dirampok?” desak istrinya dengan nafas terengah-engah.
“Ah, gak apa-apa, Bu, cuma batu lusuh kok, Bu.” Lelaki itu menjawab sambil mengangkat bahunya.
Hakikatnya, kita tak memiliki apapun. Semua yang ada pada kita hanya titipan. Lau kenapa harus merasa kehilangan dengan apa yang bukan milik kita? Mengapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

No comments:

Post a Comment

TULISAN PILIHAN

AKU SERASAH BUKAN SAMPAH (1) : Kasih Tak Berbalas

Oleh: Achmad Siddik Thoha Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang bersahaja. Di belakang rumahnya tumbuh sebatang pohon besar. Da...

TULISAN TERFAVORIT