Oleh: Achmad
Siddik Thoha
Lelaki itu melihat sesuatu yang ganjil di
tengah jalan. Didekatinya benda yang
menarik hatinya. Ternyata hanya sebuah batu lusuh. Diusap-usapnya batu itu.
Lama-lama batu itu tambah mengkilat. Benda itu cukup membersitkan harapan
baginya.
Terbayang
istrinya di rumah yang telah lama minta dibelikan lemari. Benar, pakaiannya
berantakan di kamar karena lemari kecil sejak menikah dulu sudah tak muat lagi.
Lalu pikirannya beralih ke Nanda, anak satu-satunya yang sudah 3 bulan
menunggak uang sekolah. Beberapa kali permintaan anaknya untuk membelikan buku
dia tolak secara halus.
“Ah, ini mungkin rizki mereka,” desah lelaki itu.
Dengan
penuh harap, dibawanya batu mengkilat ke toko permata. Ternyata toko permata
menolak batu tersebut dan menyarankan dia membawanya ke toko cincin batu.
Nasibnya beruntung, batu tersebut dihargai Rp. 200.000,-.
“Lemari baju belum cukup kubeli dengan uang sebesar ini, apalagi buku buat
Nanda,” keluhnya. Akhirnya dia menemukan seorang yang sedang membelah kayu di
pekarangan. Dia kemudian menawar kayu tersebut dengan semua uang yang
dimilikinya. Dengan kemurahan hati pemilik kayu, dia membawa kayu dengan
gerobak ke rumahnya. Dia masih berharap bisa membuat satu lemari baju yang
layak buat istrinya.
Di
tengah jalan, dia melewati toko meubel. Pemilik meubel sangat tertarik dengan
kayu yang teksturnya sangat indah itu. Kebetulan dia sedang ada order meubel
yang harus segera selesai. Pemilik meubel memanggil lelaki pembawa kayu itu.
Ditawarnya kayu itu seharga Rp. 500.000,-. Lelaki itu terdiam lama. Akhirnya
dia meminta kayunya ditukar dengan sebuah lemari. Atas kebaikan pemilik meubel,
lelaki itu berhasil membawa lemari dengan gerobak.
Lelaki
itu dengan susah payah membawa lemari ke rumahnya. Ia berharap istrinya senang
dengan hasil keringatnya hari ini. Perjalanan melewati perumahan mewah. Tak
disangka, ada seorang pemilik rumah memangilnya.
“Pak, kemari, Pak. Berapa lemari ini dijual?” panggil seorang ibu setengah
baya.
“Wah,
ini gak dijual, Bu,” tegas lelaki itu.
“Saya
butuh lemari untuk melengkapi ruang tamu pak. Lemari ini sangat cocok dan bagus.
Bagaimana kalau saya beli dua juta, Pak,” desak ibu itu.
Lelaki
itu terdiam. Tapi hatinya berkecamuk, antara menerima tawaran harga yang
tinggil dan kehilangan lemari. “Ah, aku kan bisa beli dua lemari dan buku
anakku dengan dua juta,” bisiknya dalam hati.
Dengan
mata berbinar, lelaki itu membawa segepok uang. Ketika melewati jalanan sepi,
tiba-tiba dari semak-semak muncul dua orang seram dengan senjata parang di
tangannya. Dalam sekejap mereka merampas uang dari lelaki itu. Sementara tak jauh
dari tempat itu kebetulan sang istri lelaki itu lewat. Dia mendengar suaminya berteriak.
“Ada apa, Pak? Kamu dirampok ya, Pak. Apa yang dirampok?” desak istrinya
dengan nafas terengah-engah.
“Ah, gak apa-apa, Bu, cuma batu lusuh kok, Bu.” Lelaki itu menjawab
sambil mengangkat bahunya.
Hakikatnya, kita tak memiliki apapun. Semua yang ada pada kita hanya
titipan. Lau kenapa harus merasa kehilangan dengan apa yang bukan milik kita?
Mengapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
No comments:
Post a Comment