Oleh: Achmad Siddik Thoha
Di sebuah lahan luas di pedesaan, hiduplah
lelaki tua bersama istrinya. Lelaki itu seorang penulis ternama yang karyanya
banyak menginspirasi orang. Dia
sangat dikagumi karena karyanya mampu mengobati derita dan memberi semangat
bagi pembacanya.
Seorang
penggemar karya sang penulis suatu saat mendengar berita bahwa dia terkena
serangan stroke berat. Separuh badannya sebelah kiri hampir tidak dapat
digerakkan. Menurrut diagnosa dokter, sulit bagi sang penulis untuk bisa bicara
lagi. Namun dalam waktu beberapa pekan,
dia telah mendapatkan kembali kemampuannya untuk bicara dan dia bersikeras
menulis kembali sambil memulihkan pikirannya. Dia kemudian mendatangi rumah
sang penulis untuk menjenguknya sekaligus ingin mendengar kearifan hidup
darinya.
Sang
penulis bangkit dari duduknya sambil memegang tongkat menyambut tamunya yang
juga penggemar karyanya. Dengan mata berbinar, lelaki bertinggi sedang mengajak
penggemarnya memasuki kamarnya yang penuh dengan buku tertata rapi.
“Saya sangat berterima kasih pada Anda, Pak. Buku Anda telah banyak membantu
saya. Namun belakangan ini, serangkaian musibah melanda saya. Rasanya
penderitaan saya semakin parah dan saya merasa sulit untuk mengatasinya.” Si
penggemar meluapkan perasaan dukanya pada sang penulis.
“Mari kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil berjalan keluar rumah mendekati
deretan pepohonan yang mengelilingi ladang jagung. Rumah sang penulis
dikelilingi hamparan ladang dan hutan di ujungnya.
“Tiga puluh tahun yang lalu, pemilik ladang itu menanami pepohonan itu untuk
memagari ladangnya. Awalya, pohon muda tidak dengan kawat berduri yang menancap
di batangnya. Ada pohon yang melawan, tapi ada juga yang beradaptasi. Lihat
disana, ada pohon yang bisa menerima dan kawat itu menyatu dengan kehidupan
pohon, tapi kelompok pohon yang dekat ini, ia tidak tahan.” Penulis menunjuk
pada pohon tua yang bentuknya tidak karuan akibat dipasangi kawat berduri.
“Mengapa pohon itu menyakiti diri sendiri dengan melawan kawat berduri itu,
sementara pohon yang sebelah sana justru menguasai si kawat berduri?”
Si
penggemar mengamati pohon yang agak jauh itu. Pohon itu sama sekali tidak menunjukkan tanda
kerusakan. Jangankan luka yang panjang dan besar, yang terlihat justru kawat
yang terlihat masuk lewat satu sisi dan muncul disisi lainya, hampir seperti
disisipkan dengan bor.
“Aku sering mengamati dan merenungi pepohonan itu,” kata penulis, sambil
berbalik mengajak penggemarnya kembali ke rumah.
“Kekuatan apa yang sanggup mengatasi luka, perih dan sakit yang disebabkan
oleh kawat berduri, bukan membiarkan dirinya tersisih seumur hidupnya?
Bagaimana pohon itu bisa mengubah kepedihan menjadi pertumbuhan tubuhnya yang
optimal, bukan sebaliknya menjadi pengganggu dan beban yang mematikan dirinya?”
“Kau punya masalahmu sendiri dan aku berjuang dengan masalahku sendiri. Jika
kita bersikap bijak dengan kesedihan yang kita rasakan, jika kita bisa
mengakhiri duka secepatnya, maka kawat berduri itu tidak akan menguasai kita.
Kita bisa berdamai dan hidup menyatu dengan masalah atau penderitaan kita. Aku
bersedia mengatasi masalahku. Kau pun bisa mengatasinya asalkan tidak
menjadika pengalaman buruk sebagai dalih untuk mundur. Bahkan seharusnya kau
harus berjanji untuk menerima kebangkitanmu kembali” Akhirnya mereka kembali
tiba di beranda rumah penulis. Secangkir kopi hangat telah terhidang.
Setelah
meminum kopi hangat yang sedap, sang penggemar memutuskan untuk berpamitan. “Terima kasih, saranmu akan kulakukan.”
Sang penggemar berjanji dan mereka berjabatan tangan.
Sang
penggemar kemudian mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah sang Penulis. Dia
smenyempatkan menengok ke pepohonan pagar hidup itu yang daun-daunnya
dipermainkan oleh angin. Pepohonan
itu telah mengajarinya kekuatan untuk mengatasi kemalangan, beradaptasi
melanjutkan hidup dan terus tumbuh.
*Terinspirasi dari
Buku Everyday Greatness karya David K. Hatch
No comments:
Post a Comment