Pohon
rambutan Bu Denok berbuah lebat. Buahnya tampak memerah rimbun bergelantungan,
memikat pandangan siapapun yang lewat. Para tetangga pun tak mau ketinggalan
minta bagian buah sedap itu. Saban hari, ada saja yang datang meminta buah
rambutan. Maklum, Bu Denok ini memang terkenal pemurah di kompleks tempat
tinggalnya.
Ada
yang datang dengan celana digulung selutut siap memanjat pohon rambutan. Ada
yang datang membawa galah. Bahkan ada yang datang dengan membawa karung kosong
siap diisi penuh oleh buah nan segar itu. Semua disambut Bu Denok dengan tangan
terbuka.
Ada
juga tetangga Bu Denok yang setiap hari menelepon minta rambutan. Namanya Bu
Cemplon. Sehari bisa beberapa kali menelepon, mengingatkan Bu Denok agar
dirinya disisakan buah rambutan. Setiap menelepon selalu lama, walau tetap
diterima Bu Denok dengan suka cita.
Setiap
hari tak jemu Bu Cemplon menelepon, hingga musim rambutan berlalu, dan buah tak
lagi bersisa walau satu juga. Bu Cemplon tak pernah datang mengambil rambutannya,
tak segigit pun mencicipi lezatnya rambutan Bu Denok.
Sahabat,
rezeki kita sudah disediakan. Dia menciptakan nyamuk untuk mengenyangkan cicak,
Dia juga menyediakan nektar demi lebah dan kupu-kupu. Dan cicak keluar
menjemput rizkinya, merayap di tembok menangkap mangsanya. Kupu-kupu dan lebah
beterbangan, tak lelah mengepakkan sayap menuju bunga demi bunga di taman.
Namun,
ada sebagian kita yang tidak mengiringi doa dengan ikhtiar raga. Sama seperti
Bu Cemplon, yang hanya menelepon Bu Denok minta buah Rambutan, walau memang tak
pernah alpa setiap harinya. Hanya menelepon, tanpa sekalipun mengunjungi rumah
Bu Denok.
Sahabat,
jika ingin rezeki, bergeraklah. Lakukan apa saja yang kita bisa. Sekecil apa pun, sesederhana apa pun itu.
Ada seorang ibu yang menjemput rezekinya dengan membungkus kue. Kue bolu satu
loyang diambilnya di toko kue. Kemudian diiris-irisnya kue bolu itu dan
diplastiki satu-satu. Potongan kue dijualnya lagi di pedagang kue eceran. Hanya
bermodalkan plastik dan ketekunan, dapat membantu suami menyekolahkan
anak-anaknya.
Ada
seorang lelaki mengitari kompleks perumahan, menawarkan jasa membersihkan
kompor gas. Tanpa modal apa-apa, hanya kemauan dan ketelitian membersihkan
minyak yang menempel di sudut-sudut kompor. Tapi setidaknya ia bergerak, terus
bergerak menuju rezekinya.
Seorang
nenek tiap pagi berjalan kaki menenteng termos air panas dan kopi atau teh
instan. Pekerjaan sederhana, mungkin untungnya tak seberapa. Tapi ia bergerak,
berikhtiar nyata menjemput rezekinya.
Jantung
kita dalam sehari berdenyut hingga ratusan ribu kali. Elektron tak pernah lelah
berotasi mengelilingi inti atom. Bumi, langit dan segenap isinya senantiasa
bergerak. Tuhan menciptakan cacing untuk burung, tapi tidak melemparkan ke
sarangnya. Burung harus terbang mencarinya. Bergerak adalah suatu keniscayaan
di dunia ini. Mereka yang diam akan tersisih.
Setiap
awal selalu sulit bagi siapa pun. Mulai bergerak memang tantangan terbesar. Bangkitlah,
Sahabat. Mulailah, cobalah, bergeraklah, kerjakanlah, berangkatlah. Yakinlah,
Dia akan tunjukkan jalan menuju rezekimu.
No comments:
Post a Comment