![]() |
| Pohon Bakau (Rhizpora spp) sang pelindung |
Bila kita
berkunjung ke pantai, biasanya akan menjumpai hutan dengan pohon-pohon yang
tergenang air. Pohon-pohon itu terlihat
unik karena akarnya yang muncul di permukaan tanah. Ada akar pohon yang muncul dari batangnya lalu
melengkung menghunjam ke tanah yang disebut akar tunjang. Ada pula akar pohon yang menyembul dari tanah
seperti bentuk lutut, yang disebut akar lutut. Terdapat pula akar pohon yang
muncul dari tanah seperti pasak, yang disebut akar pasak. Kumpulan pohon dengan
karakter akar-akar seperti itu disebut sebagai hutan mangrove atau ada yang
mengatakan hutan bakau.
Munculnya akar di
permukaan tanah adalah salah satu bentuk adaptasi dari pepohonan di hutan mangrove. Mereka perlu bernafas. Dalam kondisi tergenang air dan berlumpur,
dimana pertukaran udara dari tanah ke udara tidak memungkinkan, maka akar pohon
harus mengejar udara. Mereka, pepohonan
di hutan bakau, tidak bisa diam saja di
dalam tanah, karena kondisinya berbeda dengan di tanah kering. Mereka tidak
bisa bersembunyi di bawah tanah karena tanpa udara mereka akan mati.
Hutan mangrove berdekatan
dengan muara sungai, dimana lumpur baik yang subur maupun yang beracun
mengendap di sana. Pepohonan mangrove
rajin menambat lumpur dan racun dan mengikatnya hingga tidak berbahaya bagi
lingkungan. Maka kita lihat air laut tetap jernih di pesisir pantai yang
memiliki hutan mangrove yang masih bagus.
Hutan mangrove
juga menahan gelombang besar yang menghantam pesisir hingga warga sekitar
merasa aman. Keberadaan pepohonan
mangrove, membuat air asin dari laut tertahan cukup disekitar pesisir dan
pantai saja. Ini membuat sumur-sumur masyarakat tetap dalam kondisi tawar dan
layak dikonsumsi.
Akar-akar
mangrove yang muncul ke permukaan dengan berbagai bentuknya tidak hanya berguna
bagi dirinya. Akar-akar ini menyediakan
ruang bermain, bersembunyi, mencari makan dan bertelur bagi hewan laut seperti
ikan, udang, kepiting dan lainnya. Ikan dan hewan laut sangat terbantu dari
guguran daun, ranting, bunga dan buah mangrove
yang telah membusuk. Plankton, sumber makanan ikan dan hewan laut menjadi subur karena banyak persediaan
makanan di sana.
Bakau menjadi
pelindung, penyirna bahaya, pelayan dan perjernih. Bakau Sang Pelindung, ia
sanggup menghadang ombak yang tinggi dan badai yang ganas, mempertahankan
tubuhnya agar pantai tak terkikis dan manusia selamat dari badai dan bahkan tsunami.
Ia menghalau badai agar tidak merusak pesisir dan sekitarnya. Ia meredam ombak
dan meniadakan bahayanya.
Bakau sang
Pelindung, melindungi kejernihan air
dari lumpur-lumpur. Ia tak kenal lelah menambat racun agar tidak berbahaya bagi
yang lain. Ia siang malam melindungi hewan air agar tetap
hidup, tumbuh dan berkemban biak. Ia begitu tulus memberi perlindungan
sekaligus pelayanan dengan guguran daun, ranting, bunga dan buah yang jadi
sumber makanan.
Bakau Sang
Penjernih, rela menangkap kotoran lalu menyerapnya agar lumpur-lumpur tak
merusak beningnya laut. Ia menjernihkan
agar lumpur dari sungai tak mengganggu asyiknya ikan-ikan bermain dan mencari
makan. serta hewan laut mendapat kenyamanan ketika bertelur.
Sungguh indah
pelajaran dari pepohonan di hutan bakau atau mangrove. Perbedaan jenis pohon,
bentuk batang dan daun serta karakter yang unik dapat menyatu dalam satu
tujuan. Akar mangrove yang rela keluar persembunyiannya demi untuk menyediakan
perlindungan bagi lingkungan sekitarnya.
Akar yang menyembul dari tanah bukan simbol kesombongan, namun lebih
pada tuntutan adaptasi dan misi yang lebih besar. Bila kita terus bersembunyi
dalam beramal, tentulah sangat terbatas peran dan manfaat yang dapat
diberikan. Dengan muncul, tegak dan
adaptif, maka eksistensi diri makin kokoh dan karya kita akan membawa dampak
manfaat yang lebih luas. Tentu saja menampilkan amal tetap harus dilandasi
dengan keikhlasan.
Lingkungan dengan
ombak ujian yang besar, angin badai masalah yang tiba-tiba datang dan lumpur
cobaan dari diri dan lingkungan luar, seyogyanya dihadapi dengan meningkatkan
daya adaptasi tinggi. Akar-akar iman
yang makin kokoh akan menopang amal atau karya sehingga melahirkan amal yang
melindungi, melayani dan menjernikan.
Dikutip dari Buku KETIKA POHON BERSUJUD, Inspirasi dari Pohon
Karya Achmad Siddik Thoha

No comments:
Post a Comment